PROMO KREDIT MOTOR YAMAHA HARI INI
MIO M3 
DP 1,6 JTA CICILAN 700 RBU AN

FINO (unit 2019)
DP 2 JTA AN

NMAX (unit 2019)
DP 3,7 JTA CICILAN 1 JTA AN

VIXION R (unit 2018)
DP 3 JTA AN CICILAN 1 JTA AN

VEGA FORCE (unit 2018)
DP 2 JTA AN CICILAN 600 RBU AN

BURUAN HUBUNGI KMI SEKARANG JUGA
KARENA PROMO TERBATAS

Kontak Sales
TEDI RUSTNDI


Novel, Pura Pura Amnesia

Penulis: Viska
Pura-Pura Amnesia
#PPA

(Karma Dosa Masa-Lalu) 

==

Alya namanya. Gadis berwajah ayu, cantik dan pintar. Sayangnya walau umur Alya mencapai 31 tahun, sang jodoh seakan enggan menemuinya.

Apa yang salah dengan Alya? Setiap orang seakan senang berbisik-bisik dan mempertanyakan. Banyak yang bilang Alya itu perawan tua dan dia terkena guna-guna, karena beberapa kali menjalin hubungan, selalu saja gagal. 

Pernah tiga kali, dia digadang-gadang akan menikah, tapi lagi-lagi semuanya tidak pernah terjadi, nahas semuanya kembali menyakiti Alya dan pihak keluarga calon suami tiba-tiba saja memutuskan ikatan dengan berbagai alasan. 

Sakit. Alya kembali menjadi jomlo dan keluarganya pun sudah lelah, gadis itu terserang trauma. Berpuluh upaya sudah dilakukan, dimulai dari pergi ke paranormal sampai ruqyah. Sayang, tak ada yang membuahkan hasil. 

Hingga sekarang, Alya mulai menyadari kalau kesendiriannya menimbulkan masalah bagi banyak orang. Dua adiknya yang beranjak dewasa dan memasuki usia matang untuk menikah merasa terhalang oleh kejomloannya. 

Gelisah dan resah. Itu yang dirasakan oleh Alya. Padahal, secara tingkat pendidikan dan harta Alya punya segalanya. 

Secara fisik? Dia cantik dan sempurna.

Secara finansial? Alya termasuk wanita karir yang sukses dengan usaha percetakan yang sedang dia geluti. 

Sayang, hanya satu yang dia tak punya yaitu suami. 

Ternyata karirnya yang sukses tidak bisa menutup semua mata atau mulut agar berhenti mempertanyakan tentang pernikahan Alya. Hingga Alya memilih bungkam dan merepih hatinya sendiri. 

Hingga suatu hari, karena sudah lelah. Gadis itu memutuskan mencurahkan isi hatinya yang sedang galau karena tak kunjung bertemu tambatan hati. 

Dia berserah pada Tuhan dan menyerahkan proposal nikahnya pada seorang teman yang sudah banyak menjodohkan orang. Alya benar-benar menjelaskan kondisinya dengan serius, agar beliau berkenan mencarikan jodoh dan paham akan kondisi Alya.

"Mbak Pit, Alya bingung harus gimana, berulang kali Alya menjalin hubungan, lelaki itu pergi dengan alasan yang gak Alya ngerti. Padahal Ibu sudah tak lagi muda sementara adik aku akan menikah, dia bersikeras tidak mau melangkahi Alya, aku harus gimana, ya Mbak?" tanya Alya dengan linangan air mata. Dia teringat Fira dan Anti, keduanya sudah memilih kekasih dan bersedia melamar mereka jika Alya sudah menikah. 

Pipit yang bertugas sebagai perantara menghela napas mafhum. Wanita setengah baya berjilbab biru tua itu hanya mengelus wajah cantik Alya dengan rasa keibuan. Sebagai orang yang dimintai nasihat, pastinya dia kasihan pada Alya, apalagi Alya baru saja berhijrah dan memperdalam ilmu agama. 

"Ya, Alya jangan berputus-asa pada rahmat Allah, ya? Dulu aku pun pernah ada di posisi Alya. Aku juga sulit mendapat jodoh sampai ...." Pipit menjeda ucapannya, "aku mentaubati masa laluku, Ya, bisa jadi kamu pun harus melakukannya," lanjut Pipit to the point. 

Wanita itu sudah tak ragu lagi memberikan sarannya, karena dia sudah menganggap Alya seperti adiknya sendiri, jadi dia pikir tak ada yang perlu ditutupi dari Alya. 

"Maksud Mbak Pipit apa?" Gadis itu mengerjap-erjapkan mata mulai tertarik. Dia merasa barangkali ini adalah jawaban akan semua pertanyaannya. 

Pipit melihat sekeliling masjid seperti memastikan sesuatu, kemudian dia meminta Alya agar mendekat kepadanya. Gadis itu awalnya ragu, tapi tak ayal dia memajukan badannya. Untunglah, hanya mereka berdua yang duduk di teras masjid petang itu. 

"Coba kamu ingat-ingat apa ada seorang lelaki atau teman yang kamu sakiti? Atau ingatlah apa ada dosa-dosa yang belum kamu taubati?" bisik Pipit sangat hati-hati. Tentu dia tak mau menjadi hakim bagi sahabatnya sendiri, bagaimana pun mereka manusia biasa yang sering alfa. 

"Dosa? Banyak pastinya Mbak, tapi yang mana ya ...?" gumam Alya seperti berbicara pada dirinya sendiri. 

"Baik, jika kamu belum tahu, besok kembalilah ke sini, coba tulis 100 daftar dosa dirimu dan daftar orang yang pernah kau sakiti," pinta Pipit. 

"Dan satu lagi, aku ngomong gini, karena aku juga dikasih saran ini sma guru ngaji aku, tanpa sadar dosa kitalah penghalang jodoh dan rezeki yang datang. Jadi, Alya paham kan, maksudnya Mbak?" kata Pipit lagi sebelum gadis itu berpikir macam-macam. 

Alya menghapus air matanya, lalu mengangguk paham. 

"Baik Mbak, insya Allah. Terima kasih Mbak sarannya," jawab Alya sedikit lega. 

(***)

Setelah pertemuannya dengan Pipit, Alya benar-benar galau, bayangan atas dosa jadi penghalang sudah memenuhi rongga dada sehingga menimbulkan rasa tak tenang. Oleh karena itu, sepulang kerja, Alya yang biasanya menuju meja makan, malam itu melakukan hal berbeda. 

Dengan wajah linglung Alya langsung masuk ke kamarnya, mengurung diri. Beberapa kali Ibu dan adik-adiknya memanggil untuk makan malam, Alya menolak dengan halus. Dia memilih berkutat dengan laptop.

Tak terasa hampir dua jam dia terlena dalam tafakur dan ketikannya yang berisi daftar kesalahannya dari dosa pada orang tua sampai kepada para sahabat. 

Hasilnya? Dia hanya mendapat 95 dosa, sementara otaknya terasa sangat buntu. Lima lagi, tapi benaknya seakan lelah memutar file memori yang terasa berdesakkan membuat mumet.

Agh. Dia menggaruk kesal kepalanya yang berat. Waktu dia untuk menyelesaikan ini hanya malam ini, seharusnya dia ingat apa saja karena manusia adalah tempatnya salah. 

Apalagi seharusnya dosanya lebih banyak dari 100, seegois itukah dirinya sampai lupa mencatat kekhilafan diri? Namun, diakui atau tidak, ternyata memang tak semudah itu mengingat, mungkin itulah kenapa manusia membutuhkan orang lain sebagai reminder alternatif. 

Di tengah keputusasaannya, Alya memutuskan menatap langit-langit dan mengedarkan pandangan untuk mengingat-ingat tapi tiba-tiba pandangannya berhenti pada satu titik. Pandangan gadis berlesung pipi itu tertarik pada satu kotak yang sejak dulu tak pernah dia buka. 

Kotak itu sudah berada di atas lemari semenjak dia SMP. Itu berarti sudah berbelas tahun lamanya. Bagaimana bisa dia lupa ada kotak itu? 

Seolah ada magnet dan bisikan yang menarik dirinya mengambil kotak berdebu tersebut, gadis bermata bulat itu pun melangkah dengan perlahan mendekati lemari. Kemudian, tangannya menggapai-gapai ke atas sampai kotak itu bergeser dan jatuh. 

Bergegas Alya berjongkok dan mengambil kotak bersampul kado tersebut. Tangannya dengan aktif membuka kado itu disertai gempuran dada yang berkecamuk, lalu alangkah kagetnya dia setelah semua kotak berhasil dibuka.

Alya mendapati ada sapu tangan berwarna jingga dan sepucuk surat yang bertuliskan 'pesan untuk Alya'. 

"Alya, kamu memang menolakku siang ini tapi lihat saja nanti kamu akan jadi istriku." (By Abyan)

Gemetar, tubuh Alya membaca pesan itu. Dia ingat dulu Alya menolak Abyan dan mentertawakan Abyan yang gagap dan gemuk. Secara sebagai ketua cheerleaders, Alya remaja berpikir akan terhina rasanya berpacaran dengan cowok cupu dan enggak banget seperti Abyan. 

Agh, apakah ini jawaban kejomloannya? Apakah ini salah satu penghalang jodohnya? Bukankah di dunia ini tak ada kata karma? Ataukah memang ada? Lalu, kemana dia harus mencari Abyan, karena semenjak ditolak Abyan bagai hilang tanpa jejak. 

Agh! Alya menghela napas dengan berat. 

Gadis itu diterpa firasat buruk sekarang. Entahlah dia harus bagaimana.

(***)

Beberapa hari setelah Alya membuka kotak masa lalu Abyan, gadis itu menyibukkan dirinya untuk berkonsultasi dengan teman dan Pipit perihal firasat tak enak yang menerpanya. Banyak yang menyarankan, jika Alya harus meminta maaf tapi banyak juga yang bilang untuk tak menggubrisnya. 

Bagaimana pun itu masa lalu, masa karena itu dia jadi sulit menikah? Impossible.  Begitu kata mereka.

Awalnya Alya merasa, bisa jadi benar hal itu memang tidak mungkin sekali dan hanya perasaannya saja, mana mungkin dosanya di masa lalu pada Abyan membuat jodohnya terhalang? Mustahal bin Mustahil.

Namun, malam tadi gadis itu akhirnya bermimpi buruk. Dia melihat Abyan yang bertubuh tambun sedang memandangnya sedih, seolah ingin menagih sesuatu yang Alya ambil. Padahal Alya tak merasa mengambil apa-apa, puncaknya gadis itu pun terbangun dengan tubuh penuh keringat dan hati yang berdenyut sakit seakan merasakan apa yang dirasakan Abyan saat SMP. 

Didasari kejadian itu, Alya langsung memutuskan untuk menghubungi beberapa teman SMP-nya untuk mencari keberadaan Abyan. Barangkali dengan meminta maaf, mimpi buruk itu akan terlerai dan jodohnya akan segera datang. Harapan Alya, diambang keputusasaannya karena Fira memintanya menikah sebelum  tengah tahun ini. 

Bukankah tidak ada salahnya meminta maaf? Apalagi tanpa sengaja bisa jadi kita sudah melakukan kesalahan yang menyakiti manusia baik sadar atau tidak. Begitu pikir Alya. 

Setelah hampir tujuh hari dia mencari karena perkara Abyan seolah hilang, akhirnya Alya menemukan titik terang. Gadis berjilbab itu mendapat kabar kalau Abyan sekarang bekerja di salah satu kantor bertaraf multinasional yang ada di kotanya. 

Alhamdullilah setelah lama meninggalkan kota Bandung akhirnya Abyan kembali dan langsung menjadi orang penting. Paling tidak itu yang dikatakan Hamdan, teman dekat Abyan. 

Tanpa berlama-lama Alya pun meng-cancel jadwal rapat di percetakannya dan langsung menuju ke kantor yang dimaksud. 

"Mbak, maaf apa benar di sini ada yang namanya Abyan? Eh, maksud saya Pak Abyan?" tanya Alya dengan wajah dibuat sebiasa mungkin. Padahal hatinya, sudah merasa tak tenang karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat kencang. 

Sang receptionist melihat Alya dari ujung kepala sampai ujung kaki, seakan menelisik dan menilai penampilan Alya. Gadis itu tentu saja merasa risi, apalagi tampaknya si Mbak terlihat lebih muda. 

"Anda sudah membuat janji?" tanya receptionist itu dengan nada jutek. 

"Belum. Tapi, mohon disampaikan saya Alya temannya waktu SMP, saya hanya butuh menemuinya sekarang dan tidak akan lama," jawab Alya. Dia tahu, dia bukanlah seseorang yang pantas diingat tapi berharap dalam kondisi terdesak tidak ada salahnya. 

Gadis bermata sipit itu terdiam sejenak, lalu tangannya memegang gagang telepon seperti menghubungi seseorang. Alya menunggu dengan gelisah di depan si Mbak, sampai akhirnya receptionist itu berhenti berbicara dan kembali fokus pada Alya. 

"Pak Abyan baru saja pergi, mungkin Mbak bis--"

"Ada yang mencari saya Mel?" putus sebuah suara nge-bass yang sepertinya berasal dari belakang Alya. 

Mendengar itu, tubuh Alya sontak menegang, dia memutar kakinya perlahan antara yakin dan tak yakin. 

"Pak Abyan, sore Pak? Maaf, Pak, ini ada yang mencari Pak Abyan, namanya ...," ujar Mbak receptionist seperti mengingat. Sementara, gadis pemilik nama masih terpesona. 

Ya, Alya tampaknya tak menyangka Abyan yang dulu gendut dan berwajah hitam kini  berubah 180 derajat, lelaki di hadapannya sangat tampan dan bertubuh atletis. Gadis berjilbab itu tak yakin, jika di depannya adalah lelaki yang sama dengan yang dia hina dulu. 

"A-aku Alya, Byan, apakah kamu ingat aku? Kita teman SMP, Byan ...," gagap gadis itu berbicara. Alya bergegas merapikan baju dan jilbabnya, merasa terlalu berantakan untuk bertemu Abyan yang penampilannya jauh lebih parlente dari ekspektasinya. 

Iris mata Abyan melebar seakan terkejut melihat Alya tapi tak lama matanya kembali dingin. Sudah lama sekali memang mereka tak bertemu, Alya pun paham jika Abyan tak langsung mengenalinya, begitu pun dengan Alya, jika saja suara Abyan tak lebih dulu menyela bisa jadi dia akan melewatkannya.  

Mereka berdua bertatapan dalam diam sampai Abyan menyunggingkan senyum tipisnya, lebih cenderung sinis. Itulah yang Alya tangkap dalam pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. 

"Maaf, saya tak mengenal Anda. Jika ada keperluan, Anda bisa menghubungi skretaris saya, permisi!" ujar Abyan menggugurkan semua harapan Alya. Lelaki itu seperti tak perduli bagaimana perasaan Alya, dia berbalik membelakangi Alya. 

"Aku Alya Farhana, Byan. Kamu ingat kotak yang kamu kasih sama aku? Aku masih memegangnya, tapi aku lupa membawanya, bagaimana besok kalau ak--"

"Sudahlah, mungkin kamu salah orang!" 

"Salah orang? Tidak mungkin! Aku kenal kamu Byan, maafkan aku, aku ke sini untuk mengatakan itu," ujar Alya langsung. 

Dia bersikukuh lelaki di depannya adalah lelaki yang dia cari, karena jelas-jelas nama lengkap mereka sama dan Alya masih mengenal hidung bangir Abyan yang memiliki bekas luka di ujungnya. Luka yang disebabkan oleh Alya dulu tanpa sengaja. Picik, jika lelaki itu pura-pura amnesia. 

"Tidak ada yang harus dimaafkan, pergilah! Karena saya memang tidak mengenalmu," jawab Abyan dingin.  

Alya mematung di tempat, ketika Abyan berlalu begitu saja meninggalkan Alya tanpa dia sempat bicara lebih lanjut. 

Dia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ini akhir dari perjalanan taubatnya? Bagaimana jika lelaki itu tak memaafkannya? Karena permintaan maaf sudah dia lakukan pada semua orang, kecuali pada Abyan. 

Namun, sebelum maaf itu terucap, nahas, Abyan sudah menutupnya. 

Gadis itu menyusut air mata yang mengalir ke pipinya, tak menyangka jika permintaan maafnya pada lelaki itu akan begitu sulit bahkan dia mendadak amnesia. Alya pun memutuskan memutar kakinya menuju pintu keluar. 

Pulang. 

(***)

Abyan memasuki mobilnya dengan kesal. Dia tak menyangka, setelah bertahun-tahun perjuangannya melupakan. Alya, gadis yang hampir membuat hidupnya sekarat itu harus kembali. 

Dia benci tapi rasa itu masih ada. Rasa yang perlahan membuat Abyan ingin memutuskan pertunangannya dan mengejar Alya. Sayang, dia terlambat karena Abyan sudah berpura-pura amnesia di depan Alya. 

Bersambung.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Novel, Pura Pura Amnesia"

Post a Comment